Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi berbagai wilayah Indonesia dalam periode 3–4 April 2026.
Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan dampak signifikan di sejumlah daerah, mulai dari Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi Tengah.
Di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, angin kencang menyebabkan pohon tumbang di Desa Pengadang, Kecamatan Praya Tengah. Peristiwa ini mengakibatkan satu warga meninggal dunia setelah tertimpa pohon.
Sementara di Kabupaten Dompu, dua kelurahan terdampak angin puting beliung yang merusak sedikitnya 20 rumah. Enam unit di antaranya mengalami kerusakan sedang akibat tertimpa pohon tumbang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Beralih ke Kalimantan Selatan, cuaca ekstrem menerjang Kabupaten Tapin dan berdampak pada enam desa serta satu kelurahan di empat kecamatan. Sedikitnya 20 rumah warga mengalami kerusakan, termasuk fasilitas pendidikan dan fasilitas umum.
Selain angin kencang, banjir juga melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Luapan sungai akibat hujan deras merendam lima desa di dua kecamatan. Sebanyak 35 kepala keluarga terdampak, dengan lima keluarga terpaksa mengungsi.
BNPB menyebut, kondisi ini dipicu periode pancaroba yang meningkatkan potensi cuaca ekstrem, seperti hujan intensitas tinggi dan angin kencang.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, hujan lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga 6 April 2026.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi banjir, tanah longsor, serta risiko pohon tumbang dan bangunan roboh saat cuaca ekstrem.












